Rabu, 09 Mei 2018

Mengenal Suku Wapulaka, Desa Terindah di Sultra

Kampung Wapulaka merupakan suatu desa yang terletak di Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. Dari sisi geografis, ia terletak tepat diujung bagian selatan Pulau Buton.

Konon katanya perkampungan wapulaka tersimpan segumpal makna yang penuh filosofi. Perkampungan ini pernah mendapatkan predikat desa terindah di Sulawesi Tenggara.

Di Perkampungan ini, para tetua adat memiliki metode tersendiri dalam membangun kerukunan dan persatuan penduduknya. Dengan memanfaatkan kegiatan rutin yang teragenda, jiwa penduduk akan terbentuk sesuai misinya.

komitment dan kebersamaan para penduduk kampung ini seolah-olah selalu satu kata dalam bertindak.

Masyarakat Wapulaka diupayakan memiliki sikap yang santun. mengawasi persoalan tingkah laku penduduknya sangat ketat di banding daerah lain. Para tokoh adat menggenjot suatu aturan adat yang harus dipetuhi oleh penduduk. 

La Kali yang tidak lain merupakan salah seorang tokoh masyarakat di kampung Wapulaka mengatakan, semasa hidupnya aturan yang dibuat para tokoh adat selalu dianggap efektif dalam melakukan perubahan tingkah laku.

Setiap masyarakat yang melakukan tindakan yang tidak terpuji otomatis akan diberikan sanksi berupa denda. Dendanya bahkan mencapai jutaan. Namun ketika sang pelaku tidak bisa mampu membayar otomatif akan diberikan sanksi sosial sesuai prilakunya.

Salah satu contohnya upaya pemberantasan minuman keras (Miras). Bagi mereka yang ditemukan mengonsumsi minuman beralkohol akan diberikan sanksi berupa denda sebesar dua juta rupiah. Namun ketika para pelaku tidak mampu membayar, mereka akan digantungkan sebuah botol minuman ditelinganya, dan kemudian disuruh bertamu di setiap rumah yang ada dikampung dan mengatakan dirinya telah mengonsumsi minuman haram.

Berbicara mengenai wilayah, tidak akan terlepas dengan penduduknya. Penduduk Kampung wapulaka mayoritas berprofesi sebagai Nelayan. pencarian sirip ikan hiu beserta minyaknya adalah sumber pendapatan utama para penduduk disana.

Hidup didaerah yang penuh pasir pantai serta batu-batuan membuat para penduduk memilih menjadi nelayan dibanding petani. Namun kondisi itu tidak dijadikan hambatan. Segala kekurangan mereka jadikan suatu potensi yang luar biasa. 

Kini indahnya kampung wapulaka menjadi salah satu objek wisata yang luar biasa. Bebatuan yang berdiri tegak diatas laut yang bening menjadi potret wisata yang begitu indah. 

Dikampung wapulaka, terdapat beberapa wisata alam. Panorama bebatuan, pantai dan terumbu karang didesa wapulaka rupanya sering digunakan sebagai latar pesona alam pembuat film asal indonesia. diantaranya, si bolang bocah petualang, potret budaya wapulaka, my trip my adventure, bahkan film yang baru tenar belakangan ini yakni Barakati. Beberapa film itu memanfaatkan indahnya panorama kampung wapulaka sebagai strategi daya tarik minat penontonnya.

Tingginya kesadaran penduduknya membuat terciptanya kebersihan lingkungan pantai. Lingkungan Pasir putih pantai cenderung memberikan kepuasan batin seseorang. 

Bukan hanya itu, diliat dari ketinggian, rumah para warga wapulaka ini sangat tersusun rapi. Perayaan adat yang digelar tiap tahunnya menjadi salah satu pelengkap sempurnanya daerah ini.

Belum lama ini, kampung wapulaka telah menggelar pesta adat yang luar biasa meriahnya. Hampir semua penduduk wapulaka tergabung memeriahkan perayaan adat tersebut. Bermodalkan partisipasi yang dikumpulkan masyarakat, acara tersebut mengejutkan para pengunjung.

Acara adat yang selalu dirindukan masyarakat kampung wapulaka adalah perayaan BARUGA. Masyarakat yang dominan nelayan pasti jarang balik ke kampung tersebut. Namun ketika tiba hari perayaan BARUGA ini, seluruh masyarakat yang berada di laut ataupun sedang merantau ke negri orang dipastikan akan kembali ke kampung halamannya ini.

"Inilah bukti tingginya solidaritas mereka," ungkap La Kali menggambarkan kehidupan di kampung Wapulaka. 

Kampung yang diperkirakan terbentuk sejak tahun 1500 M ini memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya.

Seorang tokoh masyarakat Wapulaka, La Sahu Djafar (62), mengatakan, Sebelum terbentuk kampung wapulaka, masyarakat setempat awalnya bermukim di puncak gunung yang bernama liwu. Keberadaan Kampung pertama ini tidak jauh dari kampung wapulaka saat ini. Namun untuk mencapai kampung liwu itu rupanya harus mendaki gunung setinggi 12 tingkatan.

Kampung pertama ini memiliki sejarah yang tidak terlepas dari kisah putri salah seorang raja Buton yang bernama Wa ode Nopu. Ketika itu, putri raja tersebut dibawa lari oleh seorang sosok pria bernama La Dhio Leo yang tidak lain merupakan leluhur pertama penduduk wapulaka, yang dikenal oleh warga saat ini, Lakuanda.

Pelarian putri raja itu berawal dari sejarah seorang Raja Buton yang melakukan sayembara kesaktian. Siapa yang bisa momotong kumpulan bambu tebal yang diikat dengan tali menggunakan sebilah parang maka akan dinikahkan dengan anaknya, Wa ode Nopu.

Dengan pengumuman sayembara itu, maka seluruh kapita-kapita (panglima perang) pulau buton hadir mengikuti sayembara tersebut.

Di hari pertama sayembara, kumpulan bambu telah disediakan, satu persatu kapita maju untuk memotong bambu tersebut. Namun parang mereka hanya terplenting ke atas, yang pada akhirnya merekapun menyerah. Kecuali La Dhio leo yang menjadi peserta terakhir dalam sayembara itu.

"Ketika La Dhio Leo maju dan kemudian langsung mengayunkan parangnya dengan satu kali saja, kumpulan bambu tebal tadi akhirnya terpisah menjadi dua bagian," ungkap La Sahu Djafar menggambarkan suasana kala itu.

Menurutnya, Kehebatan La Dhio Leo diakui beberapa kapita yang turut hadir melihat langsung kejadian tersebut. Setelah La Dhio Leo dinyatakan menang dan otomatis konsekuensinya akan dinikahkan bersama Wa ode Nopu. Namun sebagian kalangan tidak sepakat La Dhio menjadi suami Wa ode Nopu. Hal ini dikarenakan La Dhio bukan berasal dari keturunan bangsawan (bukan La ode). 

"Dengan pertimbangan ini, La Dhio Leo tidak jadi dinikahkan bersama Wa ode Nopu. Kecuali memenangkan sayembara kedua yakni membunuh dan membawa kepala serta kemaluan raja Adonara," tambahnya.

Dalam sayembara ini rupanya lebih sulit dibanding sayembara sebelumnya. Hal ini dikarenakan bala tentara kerajaan Adonara cukup banyak. Berbagai macam cara dan strategi yang dilakukan  La Dhio Leo untuk bisa masuk kedalam kerajaan sehingga dirinya bisa membunuh raja Adonara. 

"La Dhio Leo Sudah terlalu cinta. apapun resikonya pihaknya  melewatinya. Atas keinginannya yang besar Tuhanpun meluruskan jalannya. Ia berhasil membawa kepala dan kemaluan Raja Adonara kehadapan Ayah Wa Ode Nopu yang saat itu menjabat sebagai Raja," jelasnya

Kemenangan Sayembara kedua ini, akhirnya dimenangkan juga La Dhio Leo. Namun tetap saja masih ada para kapita yang keberatan. Dari keberatan para kapita itu mengundang kemarahan La Dhio Leo. Pada akhirnya La Dhio Leo memutuskan untuk membawa lari Wa Ode Nopu dan kemudian berangkat ke Burangasi (salah satu desa di Busel).

Singkat cerita, setelah beberapa lama tinggal di Burangasi, Wa Ode Nopu merindukan orang tuanya di pusat kerajaan (Keraton Buton). Tetapi La Dhio Leo tidak mengijinkannya, akhirnya Wa ode Nopu meminta kepada La Dhio Leo apabila memang pihaknya tidak dapat kembali ke tempat kelahirannya yakni tanah Keraton Buton, maka La Dhio Leo harus mengantarnya kepuncak gunung yang dianggapnya paling tinggi.

Ketika itu La Dhio Leo lebih memilih mendaki gunung setinggi 1.000 meter itu, dibanding berpisah dengan Waode Nopu. Perjalanan mereka tidak memakan waktu yang lama.  hingga akhirnya mereka tiba ke puncak gunung. 

"Dipuncak gunung inilah kampung pertama wapulaka. saat itu La Dhio Leo dan Wa ode Nopu menghabiskan waktunya hingga beranak pinak di kampung ini. untuk saat ini, tiap tahun masyarakat selalu mengenang kampung ini,  dengan melakukan ritual adat," tandasnya. 

Melongok kondisi saat ini,  kampung pertama itu kini hanya menyisahkan sejarah. kampung pertama ini terlihat bagaikan hutan seperti kebanyakan. kini hanya tersisa peninggalan baruga tua dan beberapa makam leluhur warga Wapulaka. 

Tak satupun masyarakat yang bermukim di kampung pertama ini. mengingat kampung pertama itu cukup jauh dari pusat perkampungan saat ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar