Rabu, 09 Mei 2018

Mengenal Lebih Dekat Kapolres Baubau

AKBP DANIEL WIDYA MUCHRAM, begitulah namanya. Pria kelahiran 2 mei 1975 mengemban amanat sebagai kapolres ke sepuluh di Kota Baubau menggantikan AKBP Suryo Aji.

Ia merupakan anak dari pasangan Jusuf Mucharam dan ibu Lies Kumalasari. Nyalinya menuntaskan persoalan tidak diragukan lagi. Yah begitulah anak anggota Brimob tahun 70an.

Pria dengan tubuh berisi ini juga memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam jenjang karirnya. Dia pernah menjadi pengawal pribadi (Walpri) Calon Presiden RI, Wiranto. Tepatnya pada tahun 2004 lalu, ketika mantan jendral TNI itu mencalonkan diri sebagai calon Presiden dari Partai Hanura.

Pria dengan dua melati di pundaknya ini, beberapa waktu lalu mendapat penghargaan dari Walikota Baubau. Apresiasi itu diberikan pemerintah daerah atas dedikasi yang telah menjaga Kota Baubau dalam situasi yang kondusif dan nyaman. Penghargaan yang sama diberikan kepada dua rekannya, Kapolres Buton AKBP Andy Herman dan Dandim 1413 Buton, Letkol Inf Davy Darma Putra.

Meski terlatih hidup keras, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dikenal murah seyum. Anak pertama dari tiga bersaudara ini juga dikenal mandiri. Bahkan sejak lahir, dia sudah tak bersama dengan sang ayah yang ditugaskan sebagai komandan operasi daerah konflik, di timur-timur selama empat tahun.

Daniel memiliki saudara laki-laki yang juga seorang polisi. Riky Widya Mucharam namanya, sekarang diamanatkan menjadi Wakapolres di Polres Karawang, sedangkan adik perempuannya telah menghadap sang khlik karena penyakit gagal jantung.

Menjalani kisahnya saat ini Daniel didampingi seorang istri. Candra Cipta Ningtias namanya, wanita yang begitu dicintainya yang telah memberinya dua orang anak. Yang pertama, Fahry Adam El Yakin lahir tahun 2002 dan saat ini tengah melanjutkan pendidikan di Firlandia. Anak keduanya bernama Adinda Putri Rahmadanti yang lahir tahun 2004, saat ini Adinda tengah menempuh pendidikan di Semarang.

*Masa Muda Daniel dan Jenjang Pendidikannya*

Semasa mudanya, Daniel Widya Muchram sangat jarang bersentuhan langsung bersama orang tuanya. Ketika dirinya tercatat sebagai murid kelas tiga SD Gunung Pasir Selatan, di Kelapa Dua, Ia kembali ditinggal ayahnya yang dipindah tugaskan ke Sulawesi Utara. Sejak itu hingga lulus di Sekolah Dasar, ia hanya tinggal bersama bibinya.

Hal yang sama juga terjadi dimasa SMPnya. Menjalani sekolah di tanah kelahirannya bukan malah menghabiskan waktu bersama orang tuanya. Ia malah dititip tinggal bersama neneknya hingga Dewasa.

Namun kejadian itu tidak menjadi persoalan hidup bagi dirinya. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Ia semakin termotifasi belajar. Atas itu, semangat kesuksesannya terus terpacuh.

Walau dengan penghasilan ayahnya saat itu kurang lebih Rp 16.000, namun Daniel mampu menyelesaikan sekolahnya dengan baik.

Ketika SMA karirnya mulai terbentuk. Ia menjadi siswa angkatan pertama SMA Taruna Nusantara di asrama magelang.
Sekolah asrama pertama yang betul mengajarkan kombinasi antara pendidikan dan stamina. Meraka membuat suatu kalaborasi Abri, siswa dan swasta, sehingga bisa mencetak generasi mudah yang kuat dan cerdas. Disanalah ia banyak belajar tentang kepemimpinan.

*Karir dan Pendidikan di Luar Negeri*

Memasuki tahun kelulusannya di Sekolah Taruna Nusantara sekitar tahun 1993, di tahun yang sama pendaftaran untuk jadi anggota TNI dan Polri dibuka di seluruh Indonesia. Bahkan khusus sekolah taruna itu, dibukakan jalur khusus untuk para alumninya mendaftarkan diri. Melihat peluang itu, Daniel akhirnya memutuskan ikut masuk ke sekolah akademi kepolisian hingga dinyatakan lulus sebagai anggota Polisi tahun 1996.

Sebagai Penugasan pertama, ia ditempatkan di Polrestabes Semarang, Jawa Tengah. Ketika itu ia menjabat sebagai Pamakta atau saat ini bernama KSPKT. Tidak berselang lama, ia kemudian diangkat menjadi Kepala Unit Partoli dan Pengawalan (Kanit Patwal). Dijabatan Kanit Patwal itu, ia mengaku memiliki pengalaman yang lucu. Bagaimana tidak, ia harus memimpin seluruh anggota Polisi dengan postur tubuh yang besar dan tinggi, sementara dirinya dianggap cukup kecil.

Tepatnya di tahun 2000, dirinya pindah ke Banyumas, Jawa Tengah dan menjabat sebagai Wakasat Lantas. Tak butuh waktu lama, Daniel akhirnya dipromosikan menjadi Kepala Satuan Lalulintas (Kasat Lantas) di Cilacap.

Menjadi Kasat Lantas Cilacap, rasa dilema kemudian muncul. dirinya dihadapkan dengan pilihan antara karir dan Pendidikan. Jiwanya yang tidak pernah puas menimbah ilmu itu akhirnya memilih melanjutkan pendidikannya Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Setelah lulus dari PTIK, tepat pada tahun 2002, Daniel kemudian ditempatkan sebagai guru di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Direktorat Lalu-lintas (Ditlantas) Polda Jateng selama dua tahun.

Tidak ada kata jenuh mencari ilmu di dalam hidupnya. Menjelang tahun 2005, Daniel melanjutkan pendidikan di Negera Belanda selama tiga tahun berturut-turut. Atas kegigihannya, gelar master traffic accident analysis berhasil ia raih.

Dengan gelar master itu, dirinya berhasil mengantongi lisensi untuk menganalisa sebuah kecelakaan lalu lintas menggunakan teknologi IT. Untuk di Indonesia, hak prestasi ini hanya diemban lima orang termasuk dirinya.

Dengan modal ilmu yang dimilikinya, rupanya Polda Jateng tidak ingin menyianyiakan kesempatan itu. hingga akhirnya Daniel kembali diberikan jabatan sebagai Kasat Lantas di Pati selama enam bulan sebelum pindah sebagai Kasat Lantas di Purworejo.

Usai menjadi Kasat Lantas di Purworejo itu, Daniel menduduki jabatan Kepala Seksi Tilang, Dirlantas Polda Jateng. namun hanya berselang satu tahun dirinya kemudian diangkat menjadi Wakapolres di Kota Tegal, Jawa Tengah.

Tidak ada rasa bosan mengejar ilmu. beberapa tahun menjadi Wakapolres di Kota Tegal, Daniel kemudian mengambil S2 di Jepang. Sejak tahun 2010 hingga 2011 ia menimbah ilmu di Negri Sakura.

Pulang dari Jepang, ia langsung ditempatkan lagi sebagai Wakapolres di Brebes. sekitar delapan bulan hingga akhirnya ia ditarik ke Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) di Mabes Polri. Nah disitulah, sekitar tahun 2013, ia akhirnya mengikuti tes sespim. Alhamdulillah lulus. Ada dua tempat Sespim saat itu yang ia ikuti. tidak hanya di Bandung saja, Namun diwaktu yang sama, ia juga mengikuti sespim di luar negeri tepatnya di Malaysia. Sespin di Malaysia itu cukup bergengsi mengingat sespin itu diikuti oleh gabungan perwira senior dari lima negera.

Usai mengikuti sespin, iapun ditempatkan di Polda Riau sebagai Kasubdit Gakkum Ditlantas, setalah itu mendapat promosi lagi sebagai kabag Binkar, dan terkahir sebagai Kabag RBP di Polda Riau.

“Dan tepat tanggal 1 Januari 2016, saya akhirnya pindah ke Polda Sulawesi Tenggara (Sultra), ketika itu masih juga sebagai Kabag RBP selama satu tahun, sebelum akhirnya dipromosikan lagi sebagai Kapolres Baubau di September 2017,” kata Daniel menceritakan karirnya.

*Menjabat Sebagai Kapolres Baubau*

Tujuh bulan menjadi kapolres di Baubau, Daniel Widya Muchram cukup banyak melakukan gebrakan. September 2017, dia berhasil mencoba malakukan penyehatan organisasi internal Polres Baubau, memberikan penguatan, memberikan motivasi terhadap anggota agar tidak mudah tercerai berai, serta melakukan pemetaan konflik internal untuk dicarikan jalan penyelesaian terbaik.

“Secara pribadi, saya berharap apa yang saya lakukan baik kecil maupun yang besar, bisa mendekatkan saya kepada yang maha kuasa. lebih umum lagi orang-orang yang bekerja dengan saya atau bersama saya, masyarakat yang bertemu saya bisa mendapatkan manfaat dari keberadaan saya, itu sudah cukup bagi saya,” katanya.

Selain melakukan penguatan internal, Daniel Widya Muchram juga menjalin kerjasama dan hubungan baik bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, pemuda, agama serta elemen media massa di Kota Baubau. Menurutnya, seluruh elemen itu, dinilainya mampu saling mendukung menjaga Kamtibmas hingga menjadikan perputaran roda ekonomi akan semakin baik dan maju.

“Masyarakat di Kota Baubau sebetulnya adalah orang-orang yang bersahabat. Pencapaian pribadi yang saya banggakan selama ini, cepat sekali saya bisa mendapatkan teman. saya merasa berada di kota tanah kelahiran saya sendiri. saya mencintai kota ini lebih dari tanah kelahiran saya di Sukabumi,” tambahnya.

Tidak hanya itu, ia juga menjalin hubungan sinergitas TNI dan Polri. beberapa kegiatan Polres Baubau, pihaknya selalu berupaya melibatkan TNI, termaksud tugas yang sifatnya melayani masyarakat, pengungkapan kasus, hingga palayanan-palayanan lainnya untuk masyarakat.

Dengan gaya kepemimpinannya itulah, tidak heran jika hubungan baiknya dengan orang-orang di sekitarnya terjalin cukup baik dan erat. “Jadi pertama kali saya datang ke sini, bertemu dengan orang-orang disini, melihat kondisi kota ini, potensi wilayahnya luar biasa, letaknya strategis, potensi wisata dan kearifan lokalnya juga bagus. nah ini membuat saya jujur menjadi jatuh cinta dengan kota ini, Tanah Wolio,” tutupnya. 

Kisah Pilu Wa Halima Nenek Renta, Merawat Putrinya yang Lumpuh

Pilu nian nasib dua perempuan di Kelurahan Kampeonaho Kota Baubau Sulawesi Tenggara. Kemiskinan membawa hidup keduanya dalam cerita duka. Kedua ibu dan anak ini menjalani hidup yang getir di usia senja mereka.

Adalah Wa Halima, perempuan renta yang hidup bersama anaknya Wa Jiha di gubuk. Tak ada barang berharga di gubuk tua Wa Halima hanya sejumlah perkakas rumah tangga yang sudah usang dan lapuk.

Wanita kelahiran 1948 ini hampir tak pernah berkomunikasi dengan orang lain. Ia lebih banyak diam dan menyendiri. Ditengah kerentaanya nenek Wa Halima juga harus mengurus putrinya Wa Jiha yang juga sudah tua dan menderita lumpuh.

Untuk bertahan hidup sehari-hari, keduanya mengandalkan belas kasih para tetangga yang peduli pada mereka yang datang menjenguk. Para tetangga memberikan makanan dan minuman ala kadarnya untuk membantu mememuhi kebutuhan pangan mereka.

Tak ada uang, tak ada beras, ataupun makanan lainnya yang terlihat di gubuk kayu yang gelap tanpa lampu ini. Kesengsarahan, kesedihan melingkupi keseharian mereka.

Kisah pilu Wa Halima berawal dari duka karena ditinggal mati sang suami. Sejak ditinggal menjanda untuk kedua kalinya pada tahun 2004 itu, hidup nenek ini mulai kehilangan ruh. Semuanya terasa tawar tak ada tawa dan kebahagian. Hidup Wa Halima suram tak kuat menahan beban kehilangan suami tercinta.

Kejadian inilah yang membuat nenek Wa Halima mulai sakit hingga akhirnya ia pun depresi. Kadang nenek Wa Halima berperilaku normal dan bisa berinteraksi dengan para tetangga, namun kerap kali juga, dia tidak bersikap laiknya orang normal. Ia sering berteriak dan sesekali mengamuk.

Perempuan paruh bayah ini lumpuh sejak kecil. Dia dan ibunya tinggal berdua dan hidup dari belas kasih para tetangga.

“Hari ini kalian termasuk beruntung. Biasanya Wa Halima ini sering mengamuk. Lihat saja atap rumahnya, selain rusak karena kelapa, ini juga rusak akibat ditusuk-tusuk menggunakan kayu oleh dirinya sendiri. Bukan hanya itu, balon lampu penerangan saja yang sengaja dibuatkan bahkan sengaja ia pecahkan,” ungkap Zahmin salah satu tentangga Wa Halima.

Tak jauh berbeda dengan nenek Wa Halima, kisah Wa Jiha juga sama pilunya. Perempuan ini juga menjalani hari-hari yang memilukan. Ia hanya bisa duduk diam di dalam rumah dan tidak bisa mengenali siapa-siapa karena menderita lumpuh sejak kecil.

“Sejak kecil Wa Jiha cacat. Dia tak bisa berdiri, kesehariannya hanya duduk saja. Matanya juga dikena penyakit mata kucing, seluruhnya putih seperti mata kucing,” sambung Zahmin.

Ditengah kegetiran hidup yang dialami ibu dan anak diperparah dengan tak adanya bantuan dari pemerintah untuk keduanya. Hal itu disebabkan keduanya menjadi korban politik di tahun 2007. Keduanya dihapus dari daftar pilih karena dianggap gila.

Penghapusan nama dari daftar pilih ternyata berimbas pada bantuan sosial yang selama ini mereka peroleh. Bayangkan selama 11 tahun tak satupun bantuan sosial dari pemerintah setempat yang ia dapat.

Lurah Kampeonaho, La Ode Zainuddin mengakui hal itu. Saat disambangi di kediamannya, Zainuddin mengaku bantuan sosial kedua nenek ini sejak 11 tahun lalu dialihkan ke orang lain.
“Bantuannya sudah terhapus. Dulu sempat ada. Ini akibat seluruh identitasnya tidak terdaftar lagi di kelurahan maupun Kantor Catatan Sipil Kota Baubau,” tegasnya.

Kondisi nenek Wa Halima dan Wa Hija membuat sejumlah tetangga bersimpatik dan mendaftarkan keduanya sebagai penerima bantuan sosil. Ditahun 2018 ini Kementerian Sosial melalui Dinas Sosial Kota Baubau memberikan bantuan uang non tunai.

“Bantuan ini pertama kali diterima Wa Halima dan Wa Hija. Nilainya sebesar dua Juta pertahun. Pencairannya pun dibagi empat tahap, pertahapnya Rp 500 ribu,” singkat Kadis Sosial Kota Baubau, Laode Zulkifli saat ditemui usai pemberian bantuan.

Mengenal Suku Wapulaka, Desa Terindah di Sultra

Kampung Wapulaka merupakan suatu desa yang terletak di Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. Dari sisi geografis, ia terletak tepat diujung bagian selatan Pulau Buton.

Konon katanya perkampungan wapulaka tersimpan segumpal makna yang penuh filosofi. Perkampungan ini pernah mendapatkan predikat desa terindah di Sulawesi Tenggara.

Di Perkampungan ini, para tetua adat memiliki metode tersendiri dalam membangun kerukunan dan persatuan penduduknya. Dengan memanfaatkan kegiatan rutin yang teragenda, jiwa penduduk akan terbentuk sesuai misinya.

komitment dan kebersamaan para penduduk kampung ini seolah-olah selalu satu kata dalam bertindak.

Masyarakat Wapulaka diupayakan memiliki sikap yang santun. mengawasi persoalan tingkah laku penduduknya sangat ketat di banding daerah lain. Para tokoh adat menggenjot suatu aturan adat yang harus dipetuhi oleh penduduk. 

La Kali yang tidak lain merupakan salah seorang tokoh masyarakat di kampung Wapulaka mengatakan, semasa hidupnya aturan yang dibuat para tokoh adat selalu dianggap efektif dalam melakukan perubahan tingkah laku.

Setiap masyarakat yang melakukan tindakan yang tidak terpuji otomatis akan diberikan sanksi berupa denda. Dendanya bahkan mencapai jutaan. Namun ketika sang pelaku tidak bisa mampu membayar otomatif akan diberikan sanksi sosial sesuai prilakunya.

Salah satu contohnya upaya pemberantasan minuman keras (Miras). Bagi mereka yang ditemukan mengonsumsi minuman beralkohol akan diberikan sanksi berupa denda sebesar dua juta rupiah. Namun ketika para pelaku tidak mampu membayar, mereka akan digantungkan sebuah botol minuman ditelinganya, dan kemudian disuruh bertamu di setiap rumah yang ada dikampung dan mengatakan dirinya telah mengonsumsi minuman haram.

Berbicara mengenai wilayah, tidak akan terlepas dengan penduduknya. Penduduk Kampung wapulaka mayoritas berprofesi sebagai Nelayan. pencarian sirip ikan hiu beserta minyaknya adalah sumber pendapatan utama para penduduk disana.

Hidup didaerah yang penuh pasir pantai serta batu-batuan membuat para penduduk memilih menjadi nelayan dibanding petani. Namun kondisi itu tidak dijadikan hambatan. Segala kekurangan mereka jadikan suatu potensi yang luar biasa. 

Kini indahnya kampung wapulaka menjadi salah satu objek wisata yang luar biasa. Bebatuan yang berdiri tegak diatas laut yang bening menjadi potret wisata yang begitu indah. 

Dikampung wapulaka, terdapat beberapa wisata alam. Panorama bebatuan, pantai dan terumbu karang didesa wapulaka rupanya sering digunakan sebagai latar pesona alam pembuat film asal indonesia. diantaranya, si bolang bocah petualang, potret budaya wapulaka, my trip my adventure, bahkan film yang baru tenar belakangan ini yakni Barakati. Beberapa film itu memanfaatkan indahnya panorama kampung wapulaka sebagai strategi daya tarik minat penontonnya.

Tingginya kesadaran penduduknya membuat terciptanya kebersihan lingkungan pantai. Lingkungan Pasir putih pantai cenderung memberikan kepuasan batin seseorang. 

Bukan hanya itu, diliat dari ketinggian, rumah para warga wapulaka ini sangat tersusun rapi. Perayaan adat yang digelar tiap tahunnya menjadi salah satu pelengkap sempurnanya daerah ini.

Belum lama ini, kampung wapulaka telah menggelar pesta adat yang luar biasa meriahnya. Hampir semua penduduk wapulaka tergabung memeriahkan perayaan adat tersebut. Bermodalkan partisipasi yang dikumpulkan masyarakat, acara tersebut mengejutkan para pengunjung.

Acara adat yang selalu dirindukan masyarakat kampung wapulaka adalah perayaan BARUGA. Masyarakat yang dominan nelayan pasti jarang balik ke kampung tersebut. Namun ketika tiba hari perayaan BARUGA ini, seluruh masyarakat yang berada di laut ataupun sedang merantau ke negri orang dipastikan akan kembali ke kampung halamannya ini.

"Inilah bukti tingginya solidaritas mereka," ungkap La Kali menggambarkan kehidupan di kampung Wapulaka. 

Kampung yang diperkirakan terbentuk sejak tahun 1500 M ini memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya.

Seorang tokoh masyarakat Wapulaka, La Sahu Djafar (62), mengatakan, Sebelum terbentuk kampung wapulaka, masyarakat setempat awalnya bermukim di puncak gunung yang bernama liwu. Keberadaan Kampung pertama ini tidak jauh dari kampung wapulaka saat ini. Namun untuk mencapai kampung liwu itu rupanya harus mendaki gunung setinggi 12 tingkatan.

Kampung pertama ini memiliki sejarah yang tidak terlepas dari kisah putri salah seorang raja Buton yang bernama Wa ode Nopu. Ketika itu, putri raja tersebut dibawa lari oleh seorang sosok pria bernama La Dhio Leo yang tidak lain merupakan leluhur pertama penduduk wapulaka, yang dikenal oleh warga saat ini, Lakuanda.

Pelarian putri raja itu berawal dari sejarah seorang Raja Buton yang melakukan sayembara kesaktian. Siapa yang bisa momotong kumpulan bambu tebal yang diikat dengan tali menggunakan sebilah parang maka akan dinikahkan dengan anaknya, Wa ode Nopu.

Dengan pengumuman sayembara itu, maka seluruh kapita-kapita (panglima perang) pulau buton hadir mengikuti sayembara tersebut.

Di hari pertama sayembara, kumpulan bambu telah disediakan, satu persatu kapita maju untuk memotong bambu tersebut. Namun parang mereka hanya terplenting ke atas, yang pada akhirnya merekapun menyerah. Kecuali La Dhio leo yang menjadi peserta terakhir dalam sayembara itu.

"Ketika La Dhio Leo maju dan kemudian langsung mengayunkan parangnya dengan satu kali saja, kumpulan bambu tebal tadi akhirnya terpisah menjadi dua bagian," ungkap La Sahu Djafar menggambarkan suasana kala itu.

Menurutnya, Kehebatan La Dhio Leo diakui beberapa kapita yang turut hadir melihat langsung kejadian tersebut. Setelah La Dhio Leo dinyatakan menang dan otomatis konsekuensinya akan dinikahkan bersama Wa ode Nopu. Namun sebagian kalangan tidak sepakat La Dhio menjadi suami Wa ode Nopu. Hal ini dikarenakan La Dhio bukan berasal dari keturunan bangsawan (bukan La ode). 

"Dengan pertimbangan ini, La Dhio Leo tidak jadi dinikahkan bersama Wa ode Nopu. Kecuali memenangkan sayembara kedua yakni membunuh dan membawa kepala serta kemaluan raja Adonara," tambahnya.

Dalam sayembara ini rupanya lebih sulit dibanding sayembara sebelumnya. Hal ini dikarenakan bala tentara kerajaan Adonara cukup banyak. Berbagai macam cara dan strategi yang dilakukan  La Dhio Leo untuk bisa masuk kedalam kerajaan sehingga dirinya bisa membunuh raja Adonara. 

"La Dhio Leo Sudah terlalu cinta. apapun resikonya pihaknya  melewatinya. Atas keinginannya yang besar Tuhanpun meluruskan jalannya. Ia berhasil membawa kepala dan kemaluan Raja Adonara kehadapan Ayah Wa Ode Nopu yang saat itu menjabat sebagai Raja," jelasnya

Kemenangan Sayembara kedua ini, akhirnya dimenangkan juga La Dhio Leo. Namun tetap saja masih ada para kapita yang keberatan. Dari keberatan para kapita itu mengundang kemarahan La Dhio Leo. Pada akhirnya La Dhio Leo memutuskan untuk membawa lari Wa Ode Nopu dan kemudian berangkat ke Burangasi (salah satu desa di Busel).

Singkat cerita, setelah beberapa lama tinggal di Burangasi, Wa Ode Nopu merindukan orang tuanya di pusat kerajaan (Keraton Buton). Tetapi La Dhio Leo tidak mengijinkannya, akhirnya Wa ode Nopu meminta kepada La Dhio Leo apabila memang pihaknya tidak dapat kembali ke tempat kelahirannya yakni tanah Keraton Buton, maka La Dhio Leo harus mengantarnya kepuncak gunung yang dianggapnya paling tinggi.

Ketika itu La Dhio Leo lebih memilih mendaki gunung setinggi 1.000 meter itu, dibanding berpisah dengan Waode Nopu. Perjalanan mereka tidak memakan waktu yang lama.  hingga akhirnya mereka tiba ke puncak gunung. 

"Dipuncak gunung inilah kampung pertama wapulaka. saat itu La Dhio Leo dan Wa ode Nopu menghabiskan waktunya hingga beranak pinak di kampung ini. untuk saat ini, tiap tahun masyarakat selalu mengenang kampung ini,  dengan melakukan ritual adat," tandasnya. 

Melongok kondisi saat ini,  kampung pertama itu kini hanya menyisahkan sejarah. kampung pertama ini terlihat bagaikan hutan seperti kebanyakan. kini hanya tersisa peninggalan baruga tua dan beberapa makam leluhur warga Wapulaka. 

Tak satupun masyarakat yang bermukim di kampung pertama ini. mengingat kampung pertama itu cukup jauh dari pusat perkampungan saat ini.